Saturday, March 7, 2015

Gak Terlalu Suka Sama Feminisme, Tapi Sangat Membenci Sexisme

Gua adalah orang yang tidak suka dengan paham feminisme. Sederhana aja, feminisme menuntut adanya kesetaraan gender antara pria dan wanita, yang mana kurang relevan kalo kita melihat fakta yang ada. Perempuan lahir dengan karakteristik yang berbeda dengan pria sehingga penyamarataan adalah hal yang aneh. Menurut gue, perempuan (tanpa bermaksud mendiskriminasi) memerlukan perlindungan dan perlakuan yang lebih baik daripada laki-laki. Karena umumnya feminis berpandangan kalo laki-laki yang biadab dalam memperlakukan perempuan sehingga mereka nggak kepengen diperlakukan atau direndahkan seperti itu. Padahal, laki-laki juga gak lebih baik dalam memperlakukan laki-laki lainnya. Misal, kalo ada masalah, laki-laki bisa dengan mudah saling tonjok. Terus apa relevan gitu kalo perempuan mau disetarakan sama lelaki dan ditonjok kalo ada masalah?

Tapi memang harus gue akui, feminisme adalah paham yang lahir atas dasar ketidakpuasan/kemarahan atas perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Terlepas dari benar/salah suatu filosofi feminisme, kita masih sering ngelihat kalo lebih banyak perempuan diperkosa laki-laki daripada laki-laki diperkosa perempuan, atau istri korban KDRT, dll. Itu baru sedikit contoh aja. Masih banyak hal menjijikkan lainnya yang dilakukan ke seseorang atas dasar gender. Puncaknya ada di video ini:


Disensor? Kurang jelas kedengarannya? Nih kira-kira kalo dielaborasi apa yang terdengar (dari video ini dan video lainnya tentang sexism di sepakbola) kaya gini:   
The BBC last night broadcast the clips of Manchester United and Manchester City fans chanting: “Get your t**s out for the lads.”
One Manchester United fan also shouts at her: “Show us where you p**s from, you s**g, show us your m***e."
In another BBC clip, filmed at an unspecified Football League game, fans also taunt assistant referee Helen Byrne.
Meanwhile in a video uploaded to Vine, Arsenal fans chant: “Have you ever had a Gooner up your a**e?” at Gibraltar-born Ms Carneiro. - Sumber: The Mirror
Supaya lebih jelasnya lagi sekalian kita cek bahasa Indonesianya:
"tunjukkin toket-lo (tits) buat cowok-cowok!" (t**s)
"tunjukkin darimana lo kencing (p**s), perek (s**g)!  tunjukkin ke kita vagina lo! (m***e)
"apakah lo pernah ngerasain Gooner (bisa diartikan sbg Arsenal fans, atau meriam) di pantat-lo?" (a**e)
Maaf untuk tata bahasanya tapi kira-kira kaya gitulah kalo diartikan ke bahasa Indo. Super menjijikkan dan bikin kesel gak? Buat cowok, coba sejenak bayangin kalo kalian punya ibu, istri, saudara, pacar diperlakukan kaya gini sama cowok-cowok. Gimana kira-kira perasaan kalian?

Sebenernya dalam sepakbola (terutama di Inggris) kata-kata kotor kaya gini sering disebut dan bahkan gak ada sensor kalo lagi disiarin di TV. Tapi kata-kata tersebut biasanya sifatnya murni ngatain/ngeledek lawan atau nunjukkin frustrasi. Kalo kalimat diatas kayanya udah jelas ada unsur sexism dan perilaku kurang ajar buat perempuan karena udah jelas nyebutin hal-hal yang bersifat sexual dan berbau organ tubuh perempuan.

Ini bukan soal fans klub mana ngatain ke fans klub apa. Bukan. Ini soal sexism masih ada dimana-mana. Bahkan disiarin melalui TV ke jutaan penonton di dunia. Ini harus segera dihentikan dan perlu dipandang serius. Kalo belom lama ini masih ada isu rasis dan menjadi perhatian, kenapa sexism nggak? Bulshit lah kampanye-kampanye feminisme kalo otoritas (dalam hal ini, otoritas sepakbola Inggris) nggak menindak tegas perbuatan sexism kaya gini.

Sebagai seorang anak yang Alhamdulillah masih memiliki Ibu yang sehat, gue sadar bener kalo perempuan itu memang bisa dibilang menjalani hidup yang lebih berat dari cowok terutama dari segi fisiknya yang lebih lemah dari cowo umumnya (bukan meremehkan) dan tanggung jawabnya yang begitu besar kalau udah berkeluarga. Maka dari itu gue sangat mendukung berbagai bentuk fasilitas untuk perempuan yang sifatnya preventif dan protektif kaya gerbong khusus wanita di kereta, kursi kendaraan umum yang diutamakan bagi ibu hamil dan ibu tua, dan masih banyak lainnya karena mereka memang butuh dan layak mendapatkan itu. Lain ceritanya dengan kampanye feminime yang malah fokus dengan jatah kursi minimal 30% di parlemen (hhhhhhhhhhh) atau menteri pemberdayaan perempuan (zzzzzzzzzzz) yang justru gak memberikan dampak nyata kaya fasilitas yang udah gua sebutin tadi.

Perempuan gak butuh feminisme, tapi mereka butuh perlakuan yang layak dan perlindungan yang lebih. Tapi feminisme merupakan usaha mereka untuk melawan perilaku-perilaku yang bahkan gak lebih baik dari binatang: sexism. Sexism dan diskriminasi harus dihentikan sekarang juga!

Thursday, February 19, 2015

Sometimes It's Better To Hide Your Thoughts and Feelings

This is not about love.

This is for Chelsea fans who did idiotic, evilish behavior on the way to the PSG match or on the way back - I don't know exactly since it doesn't really matter. What matter is what they did. You can check on the video below:

This is unacceptably disgusting.

Maybe to those Chelsea fans on the train, they're thinking that Chelsea is better than PSG. Or maybe England is better than France. Or maybe just as simple as English is better than Africans. Who knows? If they keep it on their mind, it would be no one's problem. Since they sang it in public place and push an African descent so he wasn't able to get on board, and probably influenced the reputation of a football club that I support, I can only think the best way possible is criminal justice investigation. Bring them to court and let the evidence tells the judge what to do. 

I condemn racism but there's simple way to avoid it. Now let's imagine, if these racists could just shut up about their feelings towards Africans people, would it be a problem? Would it hurt people - not just the victim? Which is why I write this in the first place. People, sometimes, just need to hide their thoughts and feelings publicly cause it might hurt many, many people.

Charlie Hebdo, Anyone?

This news reminded me of what I exactly thought about what happened in France weeks ago, where Charlie Hebdo office was being attacked by some people who were claimed as Muslims who angry

Regardless whether these attackers are really Muslims or not, or whether these people were attacking Charlie Hebdo due to their writings, the first thing that they need to remember is that the consequences of what they wrote. Many times they're expressing their resentment towards any religions and Islam is just one of them. After the incident I tried to find out what exactly they wrote firsthand about Islam, and what did I find? Several painfully-provoking description about Islam.

I condemn such attack but I can see the connection if those attackers were motivated to do so if they have the same response with me, let alone if they're more than just angry.  It's ok if people of Charlie Hebdo dislike Islam in their mind or have animosity to every religions that exist. Whatever they're - agnostic or atheist, I can understand if they think that there's something wrong about religions. But to insult publicly in such ugly depiction?

Just like I said previously: people, sometimes, just need to hide their thoughts and feelings publicly cause it might hurt many, many people. In this case is the disdain about Islam as religion. Just shut up and hide it. Perhaps they can write something more constructive to religions' doctrines without humiliating? That would do much better I guess. Still I need repeat that I condemn that attack.

"But Charlie Hebdo have the rights to write what they want! It's freedom of expressions!"

Back to the racism issue above. What if those racists on the train simply claiming that it's part of freedom of expression? "We're racists! We're racists! That's the way we like it!" oh they have the rights to sing and do what they want right?

I have nothing against freedom of expression but one must remember that freedom doesn't mean it's okay for people to insult others and their affiliations publicly. Whatever it is: religions, nationality, race, sport clubs, and so on.What they want were not the right things cause it's hurting.

There are about 6 billions people in the world with their own brain which gave them the ability to think everything differently. Of course, deep inside their mind, who knows what others are actually thinking? That's why people lie to cover their real feelings and people can be misguided by that. Misguiding, in racism context, is necessary though. 

I admit that sometimes I did racist act in the past to my friends, like calling them by their origin or their tribe (also bragging about football clubs). Despite it was only a joke and my friends are ok with that, and I'm ok if there's anyone call me by my tribe (since racism isn't really a problem here in Indonesia), I'm trying to avoid it now. Because I don't know what's really inside their mind. Maybe today they're okay with that, but who knows tomorrow? So I just leave it there and keep it to myself without saying anything related to racism publicly anymore.

So, to all those racists in the world, I can't stop or change who you really are. But please, hide your thoughts and feelings that related to racist. Don't express that. Let's make the world a better place to live by at least telling no things which could hurt others.

Friday, December 19, 2014

A Response to A Very Good Piece: "Karikatur ISIS dan Kemalasan Dalam Beragama"

Jadi ceritanya, salah seorang senior jenius FHUI yang sangat gue kagumi, menulis artikel di selasar.com mengenai polemik terkait Isu ISIS. Tulisannya bagus dan gue rekomendasikan kalian semua buat baca di link ini. Namun demikian ada juga poin-poin dimana, gue merasa, ada yang ingin gue tanggapi. Murni tanggapan bukan koreksi apalagi bantahan. Kalau emang ada yang terkesan mengoreksi atau membantah, bisa jadi karena memang gaya bahasa gue yang kurang bagus aja he he. 

Intinya adalah, tanggapan gue emang cukup panjang sampe tanpa sadar ternyata sampe lebih dari 5 paragraf. With that in mind, gue berfikir sekalian aja gue masukin di blog gue. Daripada sepi postingan ya kan hehehe. So here's my response to the respected man:

A very good piece bang, dan bisa dikatakan secara logika apa yg abang sampein disini itu benar dan saya setuju.

Tapi ada beberapa hal yang saya ingin saya tanggapi, bukan koreksi, pada tulisan abang. Karena walaupun saya juga merupakan salah satu dari sekian orang yang lumayan cetek dari segi ilmu (bukan sarkasme, karena saya merasa memang ilmu saya masih dikit sekali apalagi urusan agama), terdapat beberapa hal yang membuat saya bisa mengerti kenapa banyak orang yang marah, emosi, dsb ketika agamanya dijelekkan sekecil apapun. Karena menurut saya, bagi sebagian orang itu, agama lebih ke arah rasa dan karsa. Rasa dan karsa inilah yang kadang mendorong banyak pemeluk agama untuk menjadi marah dan diluar kendali. Padahal secara logika, dan apabila dalam situasi netral, mungkin mereka mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah atau gak penting. Sebagaimana pernah saya alami beberapa waktu lalu.

Saya menganalogikan segala emosionalitas terhadap agama banyak yang bersumber pada kecintaan mereka pada agama yang tidak bisa diukur. Apakah saya mencintai Islam lebih baik daripada orang lain? Parameternya apa? Apakah dengan beribadah lebih sering, saya lebih mencintai Islam dibandingkan orang yang lebih jarang beribadah? Menurut saya ini adalah kajian tak berujung dan cenderung rhetoris. Tetapi inilah yang membuat saya berfikir bahwa reaksi emosional terhadap penghujatan agama adalah sebuah reaksi yang somehow reasonable. Namun disaat yang sama, saya juga bisa bilang bahwa reaksi tersebut adalah kurang tepat. Sebagai contoh saya menganalogikan apabila seorang ibu melihat anaknya dipukul kawannya sampai terluka, ibu tersebut pasti marah dan sedih melihat kondisi anaknya. Ada ibu yang secara spontan akan menghampiri kawan anaknya tersebut, lalu ada yang memarahi, ada yang sekedar menasehati, atau melakukan tindakan balas dendam lain yang didasari amarahnya, bahkan ada yang hingga memukul anak orang lain. Apakah tindakan tersebut benar? Jelas tidak. Apakah reasonable? Menurut saya iya. Lalu bagaimana dengan Ibu lain yang tidak membalas kawan anaknya tersebut? Apakah bisa dipersalahkan atau beliau dianggap tidak sayang anaknya? Tentu tidak. Mungkin ia tidak membalas karena ia menggunakan logikanya baik-baik dengan tenang. Intinya memang tiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda. Ada yang reaksinya dapat dikontrol dengan logikanya, adapula yang tidak. Bahkan apabila reaksi tersebut adalah tindak pidana yang tidak wajar akibat adanya goncangan jiwa, sehingga ia tidak dapat menggunakan logikanya, reaksi tersebut juga bisa menghapus tindak pidananya yang diatur dalam Pasal 49 ayat (2) KUHP. Tentu abang sendiri lebih paham mengenai konsep Temporary Insanity yang dipakai di US Court.

Pendapat saya ini bukan sekedar hasil kontemplasi atau reaksi emosi, bang. Sekali lagi saya mengakui bahwa apa yang abang sampaikan disini adalah benar, tapi saya mengakui bahwa ada suatu pembenaran atas reaksi orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai orang yang "lebay". FPI lebay. FUI lebay. Forum yang mengatasnamakan agama lainnya adalah lebay. Setidaknya itu dulu pandangan saya terhadap mereka, walaupun mereka juga berbicara mengenai Umat Islam ditindas di negara lain, bahkan di negara sendiri Islam didiskriminasikan seperti di Bali, saya tidak terlalu peduli. Sampai pada suatu hari dimana saya menemukan orang yang menghina Islam dalam bentuk generalisasi Islam sebagai agama yang biadab, saya pun secara reaktif berusaha untuk defensif dengan pernyataan klise "gak semua orang Islam itu teroris" dan bla bla bla. Tapi apa yang saya dapat? Saya justru malah diserang oleh ratusan atau mungkin ribuan orang yang menjelek-jelekkan Islam mulai dari mereka yang menjelek-jelekkan Allah SWT, Rasulullah SAW, hingga Al-Quran. Memang harusnya saya bisa mengendalikan emosi saya. Tapi yang ada justru malah saya melakukan twitwar yang luar biasa menyita waktu dan mungkin tidak penting karena mereka dan saya tidak akan menyatukan argumen atau berusaha menemukan titik temu.

Jika abang tidak percaya, abang boleh mengecek mention untuk saya yang terdapat komentar dari @RIchardDawkins dan @DannyBarbera. Atau liat tanggapan orang-orang yang menjelekkan Islam pada tweet ini:


Parameter penistaan agama memang absurd. Tapi disitu saya bisa memastikan bahwa dalam benak saya, terdapat reaksi amarah yang luar biasa besar, yang membuat saya sangat uring-uringan dan rasanya panas sekali hati saya sampai saya melempar barang-barang di kamar dan menonjok tangan saya ke tembok. Wajar? Tidak. Benar? Rasanya juga tidak. Logis? Tidak juga. Tapi apakah hal tersebut adalah hal yang reasonable mengingat hal itu adalah reaksi yang spontan dan luapan emosi tersebut tidak pernah saya rasakan sebelumnya? Menurut saya, iya bang. Hanya saja cara saya salah.

Sekali lagi bang, saya setuju dengan tulisan abang. Yang saya sampaikan disini hanyalah bentuk pendapat saya bahwa, terlepas dari benar atau salah, atau secara nalar, saya merasa bahwa reaksi emosi atas penghinaan agama itu adalah hal yang bersumber dari rasa dan karsa. Sebagaimana kecintaan kita pada keluarga atau sesuatu lainnya, yang kadang tidak bisa dicerna dengan logika, adalah reasonable. 

Salam hormat,