Sunday, May 19, 2013

Hukum On Air is Looking for Volunteers! Please Join Us by Filling This Form!


Hukum On Air is looking for volunteers! Bagi yang ingin bergabung dengan Hukum On Air, sebuah komunitas sosial kreatif yang bergerak di bidang edukasi hukum dan dikemas secara menghibur membutuhkan anda-anda semua yang mempunyai antusiasme tinggi dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan seni (khususnya sinematografi).

Persyaratan:
- Kita nggak mentingin berapa umur anda;
- Kita nggak mentingin latar pendidikan anda;
- Kita nggak mentingin berapa rata-rata nilai UAN anda;
- Kita nggak mentingin apa agama anda;
- Kita nggak mentingin status anda;
- Mempunyai kemauan yang kuat dalam mengisi formulir dibawah ini:





Selanjutnya, silakan informasikan kepada kawan-kawan anda dan ajak mereka bergabung supaya anda nggak kaku atau sendirian malu-malu ketika udah bergabung dengan Hukum On Air nantinya. Bersabar ya! Selanjutnya akan segera kita kontak melalui kontak yang udah kalian isi di formulir di atas. Terima kasih atas waktunya! Hukum On Air! Belajar Hukum, Sesama Amatir!

Giliran Kalah, #RafaOut. Giliran Menang, Rafa Dipuji-puji

Ini bukan tulisan yang random. Tapi emang tulisan yang sengaja gue niat tulis di akhir musim setelah kompetisi Liga Inggris selesai. Tulisan ini, tentu aja sesuai dengan judulnya. Sorry, tapi menurut gue ini merupakan tulisan yang kurang lebih offensive dibanding tulisan-tulisan gue lainnya. Karena sebagai fans Chelsea, seakan-akan gua berteriak #RafaOut hanya karena Chelsea kalah atau main jelek. Sekalinya Rafa sukses bawa Chelsea menang, suara2 nyinyir tetap ada. Kalo gua tetap bilang #RafaOut meskipun Chelsea menang, gue disindir sinis sebagai fans yang nggak bersyukur. Giliran gue berterima kasih ke Rafa (meskipun gua tetap benci orang ini dan tetap bilang #RafaOut) ketika Chelsea main bagus, gua dibilang plastic fan atau glory hunter: "Giliran Kalah, #RafaOut. Giliran Menang, Rafa Dipuji-puji".

Dogshit.

Tahukah kalian kalo Rafa dateng dari Liverpool, yang merupakan rival panas Chelsea dalam 10 tahun terakhir? Pasti tau. Tapi tahukah kalian semua kalo semasa Rafa menangani Liverpool, dia pernah menghina-hina Chelsea dengan sebutan Chelsea itu tim yang kalah kelas dari Liverpool? Atau tahukah bahwa dia secara personal pernah bilang Drogba tukang diving dengan nada sinis dan penuh emosi alias kebencian? Tahukah kalian dia juga pernah bilang bahwa si legenda hidup dan gelandang pencetak 202 gol, terbanyak dalam sejarah Chelsea, adalah pemain yang "overrated"? Dan tahukah kalian bahwa dia juga pernah bilang fans Chelsea nggak berkelas dibanding fans Liverpool? Dan tahukah kalian kalo dia tidak akan mau melatih Chelsea karena ia merasa Chelsea adalah klub yang tidak berkelas? Tapi tahukah kalian kalo dia sendiri yang meng-apply-for-job sewaktu Di Matteo dipecat? Dan tahukah kalian, bahwa hal-hal ini semua pernah ditanyain oleh banyak wartawan pada konferensi pers pertama sewaktu dia diangkat jadi manajer Chelsea? Tahu nggak apa jawaban Rafa dalam menanggapi semua pertanyaan seputar tindakannya di masa lalu yang menyinggung pihak Chelsea?

Jawabannya sangat sederhana. PROFESIONALITAS. Dia berfikir bahwa pada saat itu adalah WAJAR bagi seorang pelatih klub Liverpool menyinggung rival-rivalnya dengan alasan PROFESIONALITAS. PROFESIONALITAS ia pulalah yang membuat ia merasa tidak menyesal dan tidak merasa bersalah sama sekali sehingga ia juga menolak untuk minta maaf. WHAT A MAN? Absolute disgrace human being.

Tadinya gue pengen sekalian nunjukkin link atau real quote Benitez waktu masih di Liverpool dan ngatain Chelsea. Tapi gue pikir buat apa? Justru sebaiknya dicari sendiri quote2nya. Atau belajarlah soal sepakbola dalam aspek yang luas. Banyak orang, termasuk jurnalis papan atas yang gak tau hal ini sehingga mereka jadi judgemental sama fans Chelsea yang mereka anggap tidak fair. Mereka semua beranggapan demikian karena nggak tau hal-hal yang udah gua jelasin diatas. Dan karena mereka nggak tau itulah, artinya mereka harus cari tau dan mempelajari footballing aspect secara mendalam lagi.

Walaupun begitu, dia memang nggak bisa disalahkan 100%. Ada juga pihak internal yang patut dipersalahkan karena , well, KENAPA HARUS MENGANGKAT RAFA? But as you know, sometimes a football club lead by some people who don't understand much about the club's stature. Dan tidak hanya Chelsea.

Gua, secara taktikal dan hasil di lapangan, beranggapan Rafa Benitez bukanlah pelatih top dan seharusnya bisa memenangkan lebih banyak dengan materi pemain yang dia punya saat ini. FA Cup, League Cup, dan Club World Cup Championship adalah  kompetisi minor yang diatas kertas harusnya Chelsea bisa menang, sebagaimana yang terjadi di Europa League Cup. Tapi ada juga beberapa hal yang perlu  di apresiasi dari masa kepelatihannya. Dan gue sendiri pun udah menulis soal mengapa Chelsea fans tetap harus mengapresiasi kinerja Rafa. Ini bukan cuma sekedar kualitas dia sebagai pelatih yang membuat gua secara personal tidak ingin melihat dia menjadi manajer Chelsea, dan juga bukan soal jumlah piala yang dia dapatkan sepanjang karirnya yang membuat dirinya secara sepihak mengklaim bahwa dia adalah seorang manajer top. Nggak sama sekali. Dan itulah sepakbola. Kadang emosi personal bisa ikut tercampur aduk dengan apa yang terjadi di dalam lapangan.

Apakah gua berlebihan? No. Gue rasa fans Manchester United juga udah bersyukur karena Moyes yang belum pernah menangin piala apapun dan ditunjuk jadi pelatih daripada mereka dilatih Rafa Benitez yang udah menangin semua jenis Piala untuk level klub besar Eropa. Semua karena PROFESIONALITAS Rafa yang seringkali nyindir MU dan menunjukkan sikap arogan sama legenda hidup mereka, Alex Ferguson. Kalo sampe ada fans MU yang mau dilatih Rafa, well, you know what lah ya.

At the end of this post, I want to thank Rafa for anything. But still, I hate you and still happy to see you leaving. Good luck to Rafa in his new journey but please, never ever come back to Chelsea. You don't love us, and we don't love you. Count this as happy ending. Cheers.

Saturday, May 18, 2013

Undercover Boss & Secret Millionaire: Acara Televisi Terbagus di Indonesia Saat Ini


Meskipun gue punya lumayan banyak waktu untuk nonton TV, jujur gue semakin kesini semakin jarang untuk sekedar duduk depan TV untuk nonton acara yang gue tunggu-tunggu. Selain acara sepakbola atau acara olahraga lain, gue adalah orang yang nyaris gak pernah nonton acara TV Indonesia dengan menggunakan emosi. Emosi dalam hal ini berarti menonton dengan penuh perasaan dan bukan emosi dalam konteks marah-marah. 

Gue pada dasarnya suka nonton Top Gear, atau film-film bioskop yang diputer di TV. Cuma, gue menonton itu semua hanya untuk sekedar bersantai. Gak ada emosi sama sekali dalam konteks yang bisa bikin gue merasa tersentuh. Excitement ada, tapi sebatas hal yang bersifat menghibur. Bukan yang serius. Tapi serius dalam konteks ini juga bukan serius kaya nonton berita, lebih ke arah tersentuh (ALAMAK) dari segi batin.

Ya, karena gua udah nulis di judul postingan kali ini, tentu aja kalian udah pada tau acara apa yang saat ini gue gandrungi: Undercover Boss & Secret Millionaire. Ini acara reality show yang dikemas sederhana kaya semi-dokumenter dengan backsound yang biasa-biasa aja. Di Indonesia, Undercover Boss & Secret Millionaire diputar di channel BBC Knowledge, atau dengan kata lain, nggak ada di channel lokal. Gak ada yang istimewa dari segi teknis pembuatan atau dari segi lain dalam perspektif sinematografi. Substansinya pun sederhana, meskipun sangat penuh makna. Undercover Boss & Secret Millionaire ini ceritanya kurang lebih sama: ada orang yang menyamar ke suatu tempat tertentu untuk melihat kehidupan nyata yang kurang lebih berada di bawah taraf kehidupan si penyamar, lalu pada akhirnya penyamar tersebut merasa tersentuh dan akhirnya ia melakukan hal-hal sebagai bentuk hadiah. Kadang berupa uang, kenaikan pangkat, barang-tertentu, hingga tiket berwisata. Bedanya adalah, kalo Undercover Boss itu penyamarnya adalah Bos-nya sendiri dan ia menyamar ke kantornya sendiri (kantor-kantor yang tidak mengenali muka si bos), sedangkan kalo Secret Millionaire lebih ke arah si penyamar hanya sekedar orang kaya yang sukses dan ia terjun merasakan kehidupan sosial tertentu yang berada di bawah taraf hidupnya. Kalo Secret Millionaire, hadiah berupa uang itu udah nyaris pasti.

Kalo kita liat reality show Indonesia, pasti ada lagu-lagu yang sedihnya mentok macam Josh Groban, ada backsound-backsound aneh yang bertujuan menggugah emosi, dan ada teknis-teknis yang bertujuan mendramatisir adegan-adegan tertentu. Akhirnya kesan yang ditangkep malah reality show Indonesia itu dibuat-buat, berlebihan, dan kadang ketara kalo itu kaya sekedar rekayasa. 

Lalu gimana dengan Undercover Boss & Secret Millionaire? Apakah mereka itu beneran realitas atau rekayasa? gue sih gak tau pasti ya. Tapi poin yang bikin gue emosional bukan itu. Lebih ke pesan moral yang digambarkan. Keduanya punya konsep yang setipe: penyamaran, merasakan, lalu berbagi. Fase merasakan bagaimana sulitnya hidup yang dirasakan oleh penyamar baik ketika beraktifitas di dalam maupun diluar tempat kerja inilah yang sangat menggugah perasaan sehingga gue sering agak sedih melihat betapa kerasnya hidup di dunia saat ini. Sedangkan fase berbagi, dimana si penyamar memberikan hadiah uang, barang tertentu, kenaikan pangkat dan sebagainya, adalah fase yang sangat mengharukan. Namun tidak, disini tidak ada dramatisir berlebih seperti reality show Indonesia. Backsound score-nya pun cenderung menyentuh dan menyemangati tapi tetap, tidak ada unsur dramatisir apalagi diputar lagu sedih.

Gue bukan orang yang selalu nonton Undercover Boss & Secret Millionaire di tiap serinya, tapi sekalinya gua ada waktu buat nonton Undercover Boss & Secret Millionaire, meskipun gue juga gak terlalu lagi niat untuk nonton film, fase-fase yang udah gue jelaskan di paragraf atas selalu bisa bikin gue, well, agak gimana gitu sih, menangis. Literally.

Terlepas dari apakah ini kisah nyata atau rekayasa, gue tetap sangat terinspirasi sama film ini. Gue juga berharap, para bos dan orang kaya di seluruh dunia juga pada nonton film ini dan menarik pesanny. Gak harus main di filmnya, tapi coba praktekan ke dunia nyata. Dan terlepas dari itu semua, harapan gue terbesar cuma 1: semoga ketika suatu hari udah sukses secara karir maupun finansial, gue berharap gue akan terus bisa mengingat nilai-nilai yang ada di Undercover Boss & Secret Millionaire. Amiin...