Tuesday, June 23, 2015

10 Film Terbaik Versi Fahrurozi

Berhubung bulan Ramadhan, di satu sisi memberikan peluang buat kita beribadah, ternyata juga memberikan gue kreativitas. Ya, salah satunya adalah kreativitas untuk mengisi blog ini lagi (does it count? no?). Kali ini gue ingin menulis tentang 10 Film terbaik yang pernah gue tonton. Yep, yang pernah gue tonton. Gak menutup kemungkinan ada film lain yang jauh lebih baik tapi gue belum sempet nonton karena dasarnya gue juga bukan maniak film. Gue suka banget nonton film, tapi genre-nya cenderung terbatas. Gue juga tipe orang yang super picky dalam nonton film, misalnya awal-awalnya gue udah males, gue akan memilih untuk gak lanjut nonton. Tapi ada kalanya gue nonton sampe abis meskipun gue udah merasa eneg sama itu film sedari awal. Hahaha memang gue aneh.

Okelah, daripada curhat panjang lebar mending langsung aja menuju 10 best movies according to Mr. Fahrurozi:

10. Green Street Hooligans


"I'm forever blowing bubbles!" 

Basically this movie is one of the best (sure it is). I mean, genre ribut-ribut ala hooliganism gue memang suka banget (ya as long as its sensible lah ya). Intinya sih simple, hooligan berantem. Sebenernya ada banyak film kaya gini dan gue sendiri sempet bingung, antara milih Green Street Hooligans atau The Football Factory. Setelah dipertimbangkan, ternyata Green Street Hooligans deserves my pick. Why? Karena Charlie Hunnam actingnya super keren dan masuk banget sama peran cowok British begundalnya (ya wajar sih secara doi emang British tapi feel nya dapet banget sebagai hooligan). Elijah Wood juga bisa memposisikan dirinya sebagai cowok culun, cowok culun belajar jadi vigilant, Sampe jadi model vigilante beneran. Semua itu dilakukan di satu film dan feel nya dapet banget, tanpa ada terkesan lebay. 

Kekurangan film ini? Adegan terakhir pas si Charlie Hunnam dipukulin sampe mati, kok gak ada yang nolongin, misahin, atau bantuin? Cuma pada nontonin aja? D'oh. Still it deserves 8,0 rating from me. However, the sequel of this film is bloody awful, which made me refuse to watch the part III.

9. That Thing You Do



"...and I'm gonna find a way to let you know that, you'll be mine someday"

Oke, dari yang berbau kriminal ke yang agak unyu-unyu. However, this film is not that unyu. This is clearly not a film about love. This is a film that has a romance as its ending. Film ini bercerita tentang sebuah band yang katanya inspired by a true story. Meskipun setelah gue riset sedikit, film ini gak literally true story. Still, it's a joy to watch if you ever have similar experience: forming a band, and then it's disbanded. Sebagai orang yang pernah (berusaha) bikin band dan bubar, film ini bagus banget dan menggambarkan situasi yang sangat realistis. Mulai dari bikin band nya, sampe ada manajer, sampe mau masuk major label, sampe bubar karena ego personil dan kepentingan masing-masing. 

Kehebatan lainnya adalah tiap mereka mau perform on stage, gue ikut merasa deg-degan karena gue mempersonifikasikan diri gue seakan-akan gue adalah mereka. Dan gue ikut nyanyi (+senyum-senyum najis) tiap mereka manggung. Di awal film banyak banget bagian-bagian lucu, lalu berlanjut ke bagian konflik/sedih, lalu ke bagian yang romantis sebagai ending. Hebatnya, gue gak menemukan bagian yang cheesy-cheesy bikin males ala film romantis. Which is why I give them 8,5 for that.

8. 500 Days of Summer

"This is not a love story". 

Sorry for makin unyu. I really, really in love with this movie. Almost every part of it. Bahkan bagian yang bollywood-esque, dimana si Joseph Gordon-Levitt nari-nari gak jelas dengan penari latar (dan bahkan ada animasi burung segala ala Disney!) but I love that too! Why? Perhaps the reason is a bit cheesy, well, deep too.

Film ini bener-bener real menggambarkan hubungan antara cowok dan cewek modern (asek modern). Mungkin juga term Friendzone itu makin booming gara-gara film ini. Emang di film ini gak sekalipun menyebut kata "Friendzone" tapi film ini jelas-jelas menggambarkan perasaan banyak korban friendzone di seluruh dunia. Most of us feel Tom Hansen (Gordon-Levitt), tapi sebenernya tanpa sadar, sosok kaya Summer (Zooey Deschannel) itu se realistis dan sedekat itu dengan diri kita. Maksudnya kaya, sifat nge-friendzone yang dilakukan Summer, itu ada banget di diri kita. Kaya nge-dump orang meskipun kita udah segitunya. This isn't only about love loh ya, berlaku di banyak hal. Granted, Summer takes benefit from Tom. There's some kind of feeling too, but for some reason there's some part in Summer that doesn't feel that, "Tom is the right guy for me". Yea whatever the reason is, people do what Summer does. Unfortunately, many of us are victims of such attitude. That's why we really care about Tom during this movie, seakan lupa bahwa sikapnya Summer juga ada di diri kita. Bahkan sang producer, Scott Neudstadter bilang kalo film ini sebenernya inspired by Jenny Beckman (ada di intro), while si Scott ngasih liat script-nya ke si Jenny, Jenny thought it was good because Tom Hansen depicted him. Oh well.

Whatever, this "not a love story" deserves 8.7.

7. Star Wars


"I love you" "I know"

CHEEEESEEEEHHHHHHHHHH!!!!

I love Star Wars like I love my country. So many flaws, but you still love it nonetheless. I can even break it down to you, the list of weaknesses in this movie but I won't because it's gonna be bloody long post. But I love Star Wars, really love it. Even the so-called terrible eps I, II, and III, still I love them all. To me, this is a movie with many flaws and a bit unrealistic, but I still love. I don't know and I can't explain. Perhaps the costumes? Nah, It's not original. The dialogue? NOOOOO. So what? I don't really care and I'm still enjoying the animation too. 8,7 is a fair score.

6. Pulp Fiction


"And I will strike down upon thee with great vengeance and furious anger those who would attempt to poison and destroy my brothers."


YIKES! Quentin Tarantino! Film yang berbau vigilance memang gue suka sekali. Tapi Pulp Fiction more than just a movie about vigilantes. Pulp Fiction benar-benar sebuah film yang dikemas dengan screenplay dan plot twist yang cantik. It's a smart movie. Samuel L. Jackson di Pulp Fiction adalah Samuel L. Jackson di dunia nyata. I mean, God he's so cool and suitable with his character in this movie. Dengan perawakan afro nya dia, gue tidak bisa menempatkan film lain yang lebih "wah" buat seorang Samuel L. Jackson. 8,8 it is then.

5. Scarface

"Who do I trust? ME!"

Sebelum cerita lebih jauh mengenai betapa kerennya film ini, gue cuma mau menyebutkan 2 kekurangan film ini: 1st, Giorgio Moroder. Ugh. I love his tunes, and I love "She's on Fire" (Amy Holland) and also love "Push it to the limit" (Paul Engemann) yang ada di film ini. But to insert Giorgio's type of songs into this whole movie? It's terrible. It sounds like a cheap MIDI score by Yamaha Keyboard. This is embarrassing. and the 2nd, is the ending part. It takes so many guns to kill  Tony Montana (Al Pacino). He was shot by so many bullets, yet he died because the shotgun from behind. Albeit from long range, I can't imagine one survives a machine gun/rifle shot, let alone as many as in the film. 

Tapi... the rest is almost perfect. Mulai dari storyline, screenplay, sampe dialog. Yep, dialog nya gak nahan kerennya. Maksimal. Too many swears but that's what make this movie looks brilliant. Tony Montana swears a damn lot, and Al Pacino does everything brilliantly. He speaks with his mouth cockily like someone else. Maksudnya, mimik bibirnya dan aksennya bisa menggambarkan kesan yang berbeda dari Al Pacino yang kita kenal di film lainnya. But that's just how great Al Pacino is. One of the greatest actors ever. Al Pacino's expressiveness and its beautiful dialogue get me give Scarface 9,2 in my book.

4. Inception

"Paradox"

Clearly masterpiece. Gue suka banget sama Inception karena banyak hal, tentunya like everybody else, kita suka sama faktor imajinatif bahwa mimpi bisa di-setting sedemikian rupa sampe bisa mimpi di dalam mimpi. Is it realistic? Perhaps. Buktinya udah ada yang bisa mengatur mimpi (Lucid dream) and I can do that too. Anyway, inilah tipikalnya Christopher Nolan. Bikin film yang imajinatif dengan kemasan yang realistis, yang ternyata memang kalo secara teori scientific, hal itu memang realistis.

Tapi bukan itu yang bikin gue suka sama Inception. Bukan animasinya, bukan Marion Cotillard (ya gue suka banget sama ini orang) tapi justru adegan anti-gravity nya Joseph Gordon Levitt. Good Lord, itu keren parah. Dan ternyata itu semua bukan adegan yang full Computer Graphic, tapi justru lebih banyak aksi real stunt-nya. Untuk bikin adegan itu pun ternyata butuh modal yang gede gila. Makanya mereka dapet rating 9,4 dari gue.


3. The Dark Knight

"Why So Serious?"

Untuk ukuran film superhero, DC comics ataupun Marvel level, film ini sempurna. Bahkan untuk ukuran film normal sekalipun, film ini juga bisa dibilang sempurna. Credits to Christopher Nolan, yang bisa bikin film ini se realistis itu sampe gue bisa merasakan semua emosi dan kengerian akan sosok Joker (Heath Ledger).

Film ini sebenernya gak mengedepankan plot twist atau apa karena kita semua udah tau kalo jagoan pasti menang, musuh pasti kalah. Ketika Batman (Christian Bale) gak membunuh Joker ketika dia bisa membunuhnya pun, udah bisa ketebak karena yeaa tipikal. Tapi waktu Batman membunuh Two Face, waduh itu gak nyangka sih. Semua aktor di film ini menurut gue juga keren (sorry, Magie Gylenhall as Rachel Dawes walaupun acting-nya bagus tetep kebanting sama pendahulunya, Katie Holmes).

Well basically there are many reasons why I love this film so much. This time I agree with Oscar award that Heath Ledger as Joker was perfect. Also the sound and score of this movie. It's perfect too. 9,5 for sure.

2. Goodfellas

"As far as I can remember, I always wanted to be a gangster"

Another my kind of movie: mafioso. Kali ini diadopsi dari sebuah buku yang katanya kisah nyata, dan dikemas dengan luar biasa menarik oleh Martin Scoresese. Kalo biasanya film mafia identik dengan kesadisan, ke-gloomy-an dan sebagainya, Goodfellas lain. Ini film kaya ringan banget buat dicerna dan walaupun banyak scene sadis dan serem, basic film ini lebih kaya film santai. Saking santainya, pas udah mau abis dan scene korban pembunuhan Jimmy (Robert De Niro) setelah kasus Lufthansa Heist, score yang diputar adalah lagu yang sebenernya lagu yang lebih ke love song yang tune-nya fun. Dengan gambar yang sadis (mayat di mobil pink, mayat di freezer, etc) tapi lagunya lagu yang nyaman buat didengar, sensasi yang timbul seakan ada perasaan paranoid-paranoid tersendiri. Sensasi di film Goodfellas gak bisa gue temukan di film mafia lainnya. Bahkan film violence lainnya yang dibikin sama Scorsese. I just love it that much.

Hal kecil lain yang bikin gue tertarik adalah bagian young Henry Hill (Christopher Serrone), dimana Scorsese bisa nemuin aktor muda yang mukanya bisa dibilang lumayan mirip sama adult Henry Hill (Ray Liotta) dengan kualitas akting yang oke. Soal Ray Liotta, he wins me over his "The Ray Liotta Laugh" di scene "Funny How?" waktu ketawain Tommy DeVito (Joe Pesci). His laugh is the best laugh I've ever watched in a movie. So real, so annoying, so funny. 9,7 isn't too much for this great movie.

1. Godfather

Just so many memorable quotes in this movie, yet I pick the first ever words said by Bonasera (Salvatore Corsitto): 

"I believe in America. America has made my fortune. And I raised my daughter in the American fashion. I gave her freedom but I taught her never to dishonor her family. She found a "boy friend," not an Italian. She went to the movies with him. She stayed out late. I didn't protest. Two months ago he took her for a drive, with another boy friend. They made her drink whiskey and then they tried to take advantage of her. She resisted. She kept her honor. So they beat her. Like an animal. When I went to the hospital her nose was broken. Her jaw was shattered, held together by wire. She couldn't even weep because of the pain. But I wept. Why did I weep? She was the light of my life. A beautiful girl. Now she will never be beautiful again."

Such a strong opening line out there. Lalu dilanjutkan dengan segala kekerenan lain di film ini. Yea it's my typical movie, tapi gue yakin banyak orang yang gak suka nonton film mafia pun akan sangat suka dengan kerennya film ini. Tapi gak kaya Goodfellas, film ini terdapat beberapa Goofs yang menurut gue "yaaah kenapa gak retake ulang aja sih scene-nya sampe lebih realistis" pas bagian Santino Corleone (James Caan) gebukin Carlo Rizzi (Gianni Russo) di jalan. Beberapa tinju Santino gak kena dan itu terlihat jelas banget. Scene lain yang agak mengecewakan adalah pas Santino ditembakin. Itu keren sih, cuma agak kurang realistis aja kalo doi dengan segala tembakan yang bisa nembus jendela mobil (area kepala kalo ditembak otomatis bikin orang selesai) tapi dia masih sempet keluar, ditembak lagi, dan pake teriak. This is so wrong on so many levels, but it's really cool, on so many levels too. That's the irony of this film. Perhaps it's just to cool that it clouds my judgement? I don't know. It's the best movie I've watched by far. I'm talking about The Godfather I of course.

The Godfather II juga memiliki kekurangan kecil lain, yaitu young Vito (Robert De Niro) gak ada miripnya, atau kurang mirip lah, sama old Vito (Marlon Brando) walaupun dua-duanya sama gantengnya, atau lebih ganteng Marlon Brando sih sebenernya (discuss!). Untungnya, De Niro disini acting-nya juga segitu kerennya sampe kita lupa dan gak mikirin bahwa old Vito gak punya tai lalat di pipi kanan, yang jelas-jelas ada di muka young Vito & kid Vito (asli ini gak penting). The rest? WOW. Kalo kalian baca novel aslinya Mario Puzo, ada satu karakter di The Godfather namanya Al Neri (Richard Bright) yang merupakan Caporegime-nya si Michael Corleone yang gak kalah kerennya dibanding karakter lain. Sedikit soal Al Neri, dia merupakan eks polisi yang sadis parah sampe akhirnya dipecat dari Kepolisian New York (cmiiw). Makanya 1st appearance-nya dia di The Godfather I adalah ngebunuh Don Barzini (Richard Conte) dengan seragam & atribut lengkap Polisi. Sangat sayang dia gak ikut diceritain sedikit soal latarnya (gak kaya Caporegime-nya Vito Corleone, Salvatore Tessio sama Peter Clemenza yang diceritain cukup jelas awal mulanya berhubungan sama Vito Corleone.

Oya, mungkin many of us berfikir bahwa The Godfather III adalah film terjelek diantara yang lainnya. Menurut gue, ya, benar sekali. Somehow ceritanya masih lumayan bagus, dialognya juga okelah. Seandainya nih ya, seandainya gak ada adegan romance antara sepupu, Vincent Mancini (Andi Garcia) dan Mary Corleone (Sofia Coppola), mungkin film ini akan lebih kental sama nuansa film mafia daripada helpless romance gak jelas. Sebenarnya pun Sofia Coppola bisa diganti sama yang jauh lebih oke acting-nya, dan Vincent Mancini pun juga bisa lebih diarahkan agar lebih mirip sama Santino, atau karakter yang bisa bikin kita merasa empati, meskipun actingnya Andi Garcia bisa dibilang bagus. Ketiadaan Tom Hagen (Robert Duvall) tanpa kejelasan pun bikin The Godfather III ini jadi agak gimana gitulah, belom lagi gaya rambut Michael Corleone yang kurang mafioso dibanding The Godfather I dan II (lagi-lagi kurang penting, but it matters y'know) dan masih banyak lagi goofs lainnya (ngebunuh pake kacamata, adegan Mary tewas dll.). Tapi sebenernya overall ceritanya bagus, ditambah acting-nya Al Pacino & Diane Keaton pas histeris sewaktu Mary dibunuh, itu priceless banget. Sekeren itu sampe gue, dengan segala kritik yang gue alamatkan buat film The Godfather III, ikut merasakan thrill & emosi di bagian akhir tersebut. Ya, gue bahkan sampe menitikkan air mata (asek) pas Al Pacino teriak nangis,

Verdict? The Godfather I : 9,9. The Godfather II : 9,8. The Godfather III : 7,9.

That's all for now. Masih bisa berubah suatu saat nanti. Can't believe I made this long post hahaha. Feel free to recommend any good movie to me loh. Oiya sekedar mengingatkan, hati-hati spoiler sama tulisan diatas.

Wednesday, June 17, 2015

I'm Going To Be A Person They Can't Refuse



I'm up for fight, I'm up for grabs. With that in mind, I need to be extremely special because I know I'm not the best as there are many other people who are better than me in many aspects. 

This is more about my career, my self-development. Not love. Kidding. This is about everything in my life. 

Saturday, March 7, 2015

Gak Terlalu Suka Sama Feminisme, Tapi Sangat Membenci Sexisme

Gua adalah orang yang tidak suka dengan paham feminisme. Sederhana aja, feminisme menuntut adanya kesetaraan gender antara pria dan wanita, yang mana kurang relevan kalo kita melihat fakta yang ada. Perempuan lahir dengan karakteristik yang berbeda dengan pria sehingga penyamarataan adalah hal yang aneh. Menurut gue, perempuan (tanpa bermaksud mendiskriminasi) memerlukan perlindungan dan perlakuan yang lebih baik daripada laki-laki. Karena umumnya feminis berpandangan kalo laki-laki yang biadab dalam memperlakukan perempuan sehingga mereka nggak kepengen diperlakukan atau direndahkan seperti itu. Padahal, laki-laki juga gak lebih baik dalam memperlakukan laki-laki lainnya. Misal, kalo ada masalah, laki-laki bisa dengan mudah saling tonjok. Terus apa relevan gitu kalo perempuan mau disetarakan sama lelaki dan ditonjok kalo ada masalah?

Tapi memang harus gue akui, feminisme adalah paham yang lahir atas dasar ketidakpuasan/kemarahan atas perlakuan diskriminatif terhadap perempuan. Terlepas dari benar/salah suatu filosofi feminisme, kita masih sering ngelihat kalo lebih banyak perempuan diperkosa laki-laki daripada laki-laki diperkosa perempuan, atau istri korban KDRT, dll. Itu baru sedikit contoh aja. Masih banyak hal menjijikkan lainnya yang dilakukan ke seseorang atas dasar gender. Puncaknya ada di video ini:


Disensor? Kurang jelas kedengarannya? Nih kira-kira kalo dielaborasi apa yang terdengar (dari video ini dan video lainnya tentang sexism di sepakbola) kaya gini:   
The BBC last night broadcast the clips of Manchester United and Manchester City fans chanting: “Get your t**s out for the lads.”
One Manchester United fan also shouts at her: “Show us where you p**s from, you s**g, show us your m***e."
In another BBC clip, filmed at an unspecified Football League game, fans also taunt assistant referee Helen Byrne.
Meanwhile in a video uploaded to Vine, Arsenal fans chant: “Have you ever had a Gooner up your a**e?” at Gibraltar-born Ms Carneiro. - Sumber: The Mirror
Supaya lebih jelasnya lagi sekalian kita cek bahasa Indonesianya:
"tunjukkin toket-lo (tits) buat cowok-cowok!" (t**s)
"tunjukkin darimana lo kencing (p**s), perek (s**g)!  tunjukkin ke kita vagina lo! (m***e)
"apakah lo pernah ngerasain Gooner (bisa diartikan sbg Arsenal fans, atau meriam) di pantat-lo?" (a**e)
Maaf untuk tata bahasanya tapi kira-kira kaya gitulah kalo diartikan ke bahasa Indo. Super menjijikkan dan bikin kesel gak? Buat cowok, coba sejenak bayangin kalo kalian punya ibu, istri, saudara, pacar diperlakukan kaya gini sama cowok-cowok. Gimana kira-kira perasaan kalian?

Sebenernya dalam sepakbola (terutama di Inggris) kata-kata kotor kaya gini sering disebut dan bahkan gak ada sensor kalo lagi disiarin di TV. Tapi kata-kata tersebut biasanya sifatnya murni ngatain/ngeledek lawan atau nunjukkin frustrasi. Kalo kalimat diatas kayanya udah jelas ada unsur sexism dan perilaku kurang ajar buat perempuan karena udah jelas nyebutin hal-hal yang bersifat sexual dan berbau organ tubuh perempuan.

Ini bukan soal fans klub mana ngatain ke fans klub apa. Bukan. Ini soal sexism masih ada dimana-mana. Bahkan disiarin melalui TV ke jutaan penonton di dunia. Ini harus segera dihentikan dan perlu dipandang serius. Kalo belom lama ini masih ada isu rasis dan menjadi perhatian, kenapa sexism nggak? Bulshit lah kampanye-kampanye feminisme kalo otoritas (dalam hal ini, otoritas sepakbola Inggris) nggak menindak tegas perbuatan sexism kaya gini.

Sebagai seorang anak yang Alhamdulillah masih memiliki Ibu yang sehat, gue sadar bener kalo perempuan itu memang bisa dibilang menjalani hidup yang lebih berat dari cowok terutama dari segi fisiknya yang lebih lemah dari cowo umumnya (bukan meremehkan) dan tanggung jawabnya yang begitu besar kalau udah berkeluarga. Maka dari itu gue sangat mendukung berbagai bentuk fasilitas untuk perempuan yang sifatnya preventif dan protektif kaya gerbong khusus wanita di kereta, kursi kendaraan umum yang diutamakan bagi ibu hamil dan ibu tua, dan masih banyak lainnya karena mereka memang butuh dan layak mendapatkan itu. Lain ceritanya dengan kampanye feminime yang malah fokus dengan jatah kursi minimal 30% di parlemen (hhhhhhhhhhh) atau menteri pemberdayaan perempuan (zzzzzzzzzzz) yang justru gak memberikan dampak nyata kaya fasilitas yang udah gua sebutin tadi.

Perempuan gak butuh feminisme, tapi mereka butuh perlakuan yang layak dan perlindungan yang lebih. Tapi feminisme merupakan usaha mereka untuk melawan perilaku-perilaku yang bahkan gak lebih baik dari binatang: sexism. Sexism dan diskriminasi harus dihentikan sekarang juga!